Rabu, 16 Juni 2010

cinta-kesedihan-kecantikan-kekayaan-kegembiraan

Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah para kurcaci yang mengemban
tugas sesuai dengan namanya masing-masing. Ada Kurcaci Cinta, Kurcaci
Kesedihan, Kurcaci Kekayaan, Kurcaci Kegembiraan, Kurcaci Kecantikan,
dan lain-lain.

Suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu. Air laut
tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau
berusaha untuk cepat-cepat menyelamatkan diri.

Kurcaci Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan
tak memiliki perahu. Ia berdiri di atas batu karang di tepi pantai,
mencoba mencari pertolongan. Sementara itu, air makin naik dan
membasahi kaki Cinta.

Tak lama kemudian, Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu.
“Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!” teriak Cinta. “Aduh! Maaf, Cinta!”
kata Kekayaan, “Perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak
dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagipula, tak ada
tempat lagi bagimu di perahuku ini.”

Kekayaan lalu cepat-cepat mengayuh perahunya pergi.

Cinta sedih sekali. Kemudian dilihatnya Kegembiraan lewat dengan
perahunya. “Kegembiraan! Tolong aku!” teriak Cinta. Namun, Kegembiraan
terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tidak mendengar
teriakan Cinta.

Air semakin tinggi, membasahi Cinta sampai ke pinggang dan Cinta semakin panik.

Tak lama kemudian, lewatlah Kecantikan. “Kecantikan! Bawalah aku
bersamamu!” teriak Cinta. “Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak
bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini,”
sahut Kecantikan.

Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak.

Saat itu, lewatlah Kesedihan. “Oh, Kesedihan, bawalah aku
bersamamu,” pinta Cinta. “Maaf, Cinta. Aku sedang sedih dan aku ingin
sendirian saja…” jawab Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya.

Cinta putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya.

Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara, “Cinta! Mari cepat naik ke perahuku!”

Cinta menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua dengan
perahunya. Cepat-cepat Cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air
menenggelamkannya. Di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan Cinta
dan segera pergi lagi.

Pada saat itu barulah Cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak
mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya itu. Cinta segera
menanyakannya kepada seorang penduduk tua di pulau itu, siapa
sebenarnya orang tua itu.

“Oh, orang tua tadi? Dia adalah Waktu,” jawab orang itu.

“Tapi, mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya. Bahkan
teman-teman yang mengenalku pun enggan menolongku,” tanya Cinta
keheranan.

“Sebab,” kata orang itu, “Hanya Waktulah yang tahu berapa nilai Cinta sesungguhnya …

Renungan

Waktu akan menguji cinta. Kesungguhan cinta sejati seseorang akan
terlihat seiring waktu yang berlalu. Apakah semakin bertumbuh atau
justru semakin pudar?

Kekayaan, kegembiraan, kesedihan, apalagi kecantikan suatu saat
dapat menghilangkan perasaan cinta, tetapi tidak demikian dengan waktu.

Banyak orang yang mencintai hanya karena kekayaan atau kecantikan.
Tapi seiring dengan waktu, saat kekayaan atau kecantikan itu hilang,
cinta pun surut. Begitu juga dengan kegembiraan maupun kesedihan. Cinta
bisa mendatangkan kegembiraan sekaligus kesedihan. Tetapi, semuanya
juga teruji oleh waktu. Seberapa lama cinta bisa membawa kegembiraan?
Atau sebaliknya, berapa lama cinta bisa menyembuhkan kesedihan?

Hanya waktu yang dapat mengukur keabadian cinta. Dan, dengan waktu pulalah kita bisa menghargai cinta.

Dessy Danarti, Hadiah Terindah ’88 Kisah Motivasi dan Inspirasi bagi Sukses Hidup dan Karier’, Penerbit Andi Yogyakarta, 2007


Blogged with the Flock Browser

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TERIMA KASIH